Dirasatul Qur'an Al-Karim adalah Lembaga Pendidikan pondok pesantren yang fokus pada Tahfidzul Qur'an
Kamis, 30 April 2026 | 13 Zulqaidah 1447 H
+6281392603221

Menghidupkan Malam Hari Raya dan Kesunahan-Kesunahan di Hari Raya Idul Fitri

Hari Raya Idul Fitri menjadi momen paling bergembira bagi Muslim setelah menjalani puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Meski begitu, bukan berarti Idul Fitri selalu diidentikkan dengan senda gurau sehingga lalai untuk beribadah. Sebab itu, Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam ini dengan beribadah.  Dalam salah satu hadits Rasulullah bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَتَىِ الْعِيدَيْنِ لِلهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ. (رواه الشافعي وابن ماجه) 

Artinya, “Siapa saja yang qiyamul lail pada dua malam Id (Idul Fitri dan Idul Adha) karena Allah demi mengharap ridha-Nya, maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana hati manusia menjadi mati,” (HR As-Syafi’i dan Ibn Majah)

Hadits di atas dengan tegas menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan malam Idul Fitri dengan beribadah. Orang yang bisa menjalankan hal ini hatinya tidak akan mati. Dari sisi dirayah, maksud ‘hati tidak akan mati’ dalam hadits ini adalah hati tidak akan  mengalami kebingungan di saat banyak orang mengalaminya, yaitu pada saat sakaratul maut, saat ditanya oleh dua malaikat (di alam barzakh), dan ketika hari kiamat. Pakar fikih Maliki asal Mesir, Syekh Ahmad As-Shawi (wafat 1825 M/1241 H) menjelaskan:

وَمَعْنَى عَدَمِ مَوْتِ قَلْبِهِ عَدَمُ تَحَيُّرِهِ عِنْدَ النَّزَعِ وَعِنْدَ سُؤَالِ الْمَلَكَيْنِ وَفِي الْقِيَامَةِ. بَلْ يَكُونُ مُطْمَئِنًّا ثَابِتًا فِي تِلْكَ الْمَوَاضِعِ.

Artinya, “Makna ‘tidak mati hati orang yang menghidupkan malam hari raya’ adalah tidak bingung hatinya ketika naza’ (sakaratul maut), ketika ditanya oleh dua malaikat (di alam barzakh), dan di hari kiamat. Bahkan hatinya tenang penuh keteguhan pada momen-momen tersebut,”

(Lihat Ahmad As-Shawi, Bulghatus Salik li Arqabil Masalik, [Beirut: Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1995 M/1415 H], juz I, halaman 345-346).

Terkait kriteria “menghidupkan malam Idul Fitri” sendiri ada tiga perbedaan pendapat sebagaimana dijelaskan Imam Nawawi dalam Al-Adzkar (h. 145). Pertama, ketika kegiatan ibadah seseorang pada malam Idul Fitri lebih dominan. Kedua, dengan seseorang beribadah beberapa saat saja pada malam harinya seperti melakukan shalat sunnah, berdzikir, dan sebagainya.  Ketiga, dengan seseorang melaksanakan shalat Isya berjamaah dan bertekad akan shalat subuh berjamaah pula. Hal ini sebagaimana dikutip oleh Al-Qadhi Husain dari Ibn Abbas ra. 

Senada dengan hadist yang dibahas di atas, ada dhawuh ekpslisit yang menarik disampaikan oleh para Masyayikh ulama-ulama kita :

Sak makendut-makendute santri ojo nganti ora ngurip-urip malem riyoyo loro, paling gak sholat sunnah ba'diyah isya' rong roka'at, ditambah sholat witir sak roka'at, supoyo atine ora mati ing dalem dino akeh ati podo mati".

"Senakal-nakalnya santri jangan sampai tidak menghidupkan dua malam hari raya ('idul Fithri dan 'idul Adlha) dengan melaksanakan sholat sunnah minimal dua roka'at setelah isya' dan satu roka'at witir, agar hati tidak mati pada saat hati banyak yang mati".

Inilah pesan dari Mbah Kyai Abdul Karim Lirboyo atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Mbah Manab". Pesan ini sering diutarakan oleh Mbah Maimoen Zubair, salah satu santri senior Mbah Manab. Pesan tersebut cocok dengan hadist:

من أحيا ليلتي العيد لم يمت قلبه يوم تموت القلوب

Ulama' menafsirkan bahwa matinya hati adalah ketika hati tersebut cinta akan dunia.

Cara menghidupkan malam hari raya minimal dengan melakukan sholat isya' dan subuh berjama'ah. Lebih bagus bila ditambah dengan sholat ba'diyah isya' dan witir. Dan lebih sempurna lagi adalah melakukan ketaatan di sebagian besar malamnya.

Tahukah Anda apa itu santri makendut?

Santri makendut, begitulah sebutan beliau untuk santri yang suka ngeyel dan meminta hal yang ringan-ringan saja, terkait Ibadah khususnya entah itu sholat ataupun puasa. Menghadapi santri model seperti ini, beliau dengan gamblang mengguyoni mereka dengan guyonan yang khas beliau: "Oh ancen santri makendut!"

Di saat menjelaskan suatu ibadah sunnah terutama sholat sunnah muakkadah, beliau dawuhan: "Nek ora mampu sholat semunu, setahun cukup sholat Sunnah Rong rokaat ba'diyah isya' ditambah sholat witir sak rokaat pas wengine riyoyo loro. Wes cukup iku tok!". Terkait asal pemilihan kata makendut beliau menyampaikan dadi santri kok makendut, ora tau nyebut (Allah) Nek turu dut dut (kentut), sembari terkekeh. Di selipan guyonan ini, terdapat sebuah hal yang sangat penting. Hal ini karena pesan ini tidak hanya sekali dua kali beliau dawuhkan, melainkan berulang ulang. Hal itu menunjukkan pentingnya memperhatikan suatu amalan yang dilakukan pada saat dan waktu kebanyakan manusia lalai.

HIDUPKAN MALAM HARI RAYA !

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa menghidupkan malam Idul Fitri dan malam Idul Adlha, hatinya tidak akan mati, di hari matinya hati. (Ia akan diselamatkan dihari kiamat dan dijaga dari mati su'ul khotimah). (HR.Thobaroni).

Amalan malam hari raya:

1. Disunnahkan ketika malam hari raya setelah waktu Maghrib untuk mandi.

2.  Membaca doa ini setelah sholat sunah ba'diyah Maghrib:

يا ذا الجلال والإكرام يا ذا الطٙول يا مصطفيا محمدا وناصره صل على سيدنا محمد وال سيدنا محمد واغفر لى كل ذنب أذنبته ونسِيته أنا وهو عندك فى كتاب مبين.

Ya dzal jalaali wal Ikrom Ya dzatthouli Ya musthofiyan Muhammadan wanaashirohu sholli 'ala sayyidinâ Muhammadin wa aali sayyidinâ Muhammadin waghfir lii kulla dzanbin adznabtuhu wanasiituhu ana wahuwa 'indaka fii kitaabin mubiin.

Kemudian sujud (dengan niat sujud syukur) dan membaca:

أتوب إلى الله

Atuubu ilallooh 100 kali.

Kemudian minta hajatnya mustajab insha Allah.

3. Sholat Isya’ berjama’ah dan meniatkan diri untuk jama’ah sholat Shubuh pada besoknya. Atau memperbanyak Sholat sunnah dan bacaan-bacaan dzikir.

4. Barangsiapa yang membaca:

سبحان الله وبحمده

Subhaanallooh wabihamdihi 300x

dan ia menghadiahkan untuk muslimin yg sudah wafat, maka seribu cahaya akan masuk di setiap kuburan, dan Gusti Allah akan memasukkan seribu cahaya ke kuburnya jika ia meninggal.

5. Wasiyat KH Abdul Karim Lirboyo kediri: "Senakal-nakalnya santri jangan sampai tidak menghidupkan dua malam hari raya (Idul Fithri dan Idul Adlha) dengan melaksanakan sholat sunah minimal dua rokaat setelah Isya’ dan satu rokaat witir”.

Kesunahan-Kesunahan di Hari Raya Idul Fitri

Hari raya Idul Fitri menjadi momen paling bahagia bagi umat Islam, akan tetapi bukan berarti momen tersebut kita harus larut dalam kegembiraan sehingga lalai untuk melakukan ibadah kepada Allah Swt., jangan sampai membuat diri lupa untuk beribadah pada hari tersebut.  Berikut adalah delapan amalan sunnah yang bisa diamalkan pada hari raya Idul Fitri :

1. Melaksanakan shalat id  Muslim (baik laki-laki maupun perempuan) sangat dianjurkan melaksanakan shalat id saat hari raya Idul Fitri. Hukum shalat ini adalah sunnah muakkadah (sangat disunnahkan) sejak tahun kedua hijriah. Rasulullah saw sendiri selalu melaksanakannya sampai beliau wafat.  Baca Juga: Tata Cara Shalat Idul Fitri

2. Mandi  Sunnah untuk mandi baik bagi laki-laki atau perempuan saat Idul Fitri, termasuk perempuan yang sedang haid atau nifas. Waktunya dimulai sejak tengah malam hari raya sampai tenggelam matahari esok harinya. Berikut adalah niat mandinya: نَوَيْتُ غُسْلَ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى  Nawaitu ghusla ‘îdil fithri sunnatan lillâhi ta’âlâ  Baca Juga: Bacaan Bilal pada Shalat Idul Fitri Artinya, “Aku niat mandi Idul fitri, sunnah karena Allah”. 

3. Menghidupkan malam Idul Fitri dengan beribadah  Orang yang menghidupkan malam Idul Fitri hatinya tidak akan mati saat banyak orang yang telah mati hatinya. Ada tiga pendapat terkait cara menghidupkannya. Pertama, kegiatan ibadah malam Idul Fitri lebih dominan. Kedua, cukup dengan beribadah sesaat. Ketiga, dengan shalat isya berjamaah dan bertekad shalat subuh berjamaah pula. 

4. Perbanyak baca takbir  Sunnah untuk memperbanyak membaca takbir saat Idul Fitri. Waktunya dimulai sejak terbenamnya matahari 1 Syawal sampai takbiratul ihramnya Imam shalat Id bagi yang berjamaah, atau takbiratul ihramnya mushalli (orang yang shalat) sendiri, bagi yang shalat sendirian.  Pendapat lain menyatakan waktunya habis saat masuk waktu shalat Id yang dianjurkan, yaitu ketika matahari naik kira-kira satu tombak (+ 3,36 M), baik Imam sudah melaksanakan takbiratul ihram atau tidak. 

5. Makan sebelum berangkat shalat id Sebelum berangkat untuk melaksanakan shalat id, seseorang dianjurkan untuk makan terlebih dahulu. Orang yang meninggalkan anjuran ini hukumnya makruh. 

6. Membedakan rute pulang-pergi shalat id Dianjurkan rute pulang shalat id untuk dibedakan dengan rute yang dilalui ketika pulang. Rute keberangkatan juga dianjurkan agar lebih panjang dari rute pulang. Di antara faedahnya adalah supaya lebih memperoleh banyak pahala dalam perjalanan ibadah. 

7. Berhias  Umat Muslim dianjurkan untuk berhias sebagai bentuk ekspresi bahagia pada hari Idul Fitri. Cara berhiasnya seperti dengan memotong kuku, mandi, mengenakan parfum, dan mengenakan pakaian terbaik, dianjurkan pakaian berwarna putih. 

8. Mengucapkan selamat  Mengucapkan selamat Idul Fitri atau tah’inah dianjurkan pada momen ini. Contohnya dengan ucapan “selamat Idul Fitri 1443 H”, “taqabbalallahu minna wa minkum”, “mohon maaf lahi dan batin”, dan sebagainya. 

Bagikan ke :