Dirasatul Qur'an Al-Karim adalah Lembaga Pendidikan pondok pesantren yang fokus pada Tahfidzul Qur'an
Selasa, 16 Desember 2025 | 25 Jumadil Akhir 1447 H
+6281392603221

MENTAL KAYA, TELADAN SAHABAT HAKIM BIN HISYAM

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الْقَهَّارِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمٍ تَتَوَالَى كَالْأَمْطَارِ وَأَشْكُرُهُ عَلَى مُتَرَادِفِ فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْمُخْتَارُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَفْضَلَ مَنْ حَجَّ وَاعْتَمَرَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الأَبْرَارِ أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

Mari kita senantiasa meningkatkan dan menguatkan ketakwaan kita kepada Allah swt yaitu kemampuan kita untuk sekuat tenaga menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya. Ketakwaan ini juga yang telah ditegaskan oleh Allah swt sebagai bekal yang paling baik dalam menjalani kehidupan.

Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

Hakim bin Hisyam adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang meninggal dunia dalam keadaan kaya raya, awalnya ia seorang yang hidup dalam kemiskinan hingga beberapa kali ia meminta sedekahan kepada Nabi satu hingga dua kali ia diberi sedekah oleh nabi, saat ketiga kalinya nabi memberinya sedekah namun sambil menasehati kepada hakim bin hizam yang dalam riwayat disebutkan :

قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ قَالَ لِي يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِـإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى قَالَ حَكِيمٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَرْزَأُ أَحَدًا بَعْدَكَ شَيْئًا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا

Aku meminta sesuatu kepada Rasulullah SAW lalu Beliau memberikannya, kemudian aku meminta lagi dan Beliaupun kembali memberikannya lalu Beliau berkata kepadaku: "Wahai Hakim, harta itu hijau lagi manis, maka barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan (ambisius, tamak) maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah". Hakim berkata; "Lalu aku berkata (kepada Beliau); "Wahai Rasulullah, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, aku tidak akan mengurangi hak seorangpun (dengan meminta) setelah engkau hingga aku meninggalkan dunia ini."

Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

Dari riwayat ini hakim bin hisyam mengangkat sumpah dan memiliki komitmen di depan nabi bahwa beliau tidak akan pernah meminta-minta lagi, sampai kemudian beliau meninggal dunia. Hakim bin hisyam betul-betul berkomitmen dari apa yang dinasehatkan oleh nabi hingga ia dibukakan pintu kesadaran suatu dimensi sakhowatun nafsi yakni kesadaran rasa kedermawan diri dan kesadaran itu konsisten diamalkan oleh hakim hingga akhir hayat beliau. Disebutkan dalam riwayat ketika meninggal dunia pada masa muawiyah, hakim bin Hisyam sudah menjadi orang Quraisy yang paling kaya dan banyak meninggalkan harta warisan, lalu apa itu sakhoatun nafsi yang diamalkan oleh hakim ini ? Sakhowatun nafsi ini adalah rasa kedermawanan diri atau rasa kaya didalam hati atau al-istighna’ anisyai’. Seperti hakim bin hisyam, ia sukses kaya raya dengan membangun rasa atau rasa dermawan diri, yang mana rasa tersebut muncul dari rasa kaya di dalam hatinya. Orang yang punya rasa kaya secara otomatis ia akan dermawan. Dan dermawan itu bukan hanya kepada orang lain, melainkan juga dermawan kepada diri sendiri. Sakhowah atau dermawan pada orang lain tentunya banyak contohnya, seperti  nafkah kepada anak istri orang tua dan macam-macam sedekah dan amal jariyah.

Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

Yang sering tidak kita disadari adalah kepada diri kita sendiri kita masih memelihara rasa kikir, pada umumnya kita masih bermainset hitung-itungan, banyak mengeluh, dan mengharap bantuan orang lain masih menjadi mentalitas kita pada umumnya, hal ini disebabkan kebanyakan dari kita belum menumbuhkan rasa sakhowatun nafsi atau mental dermanawan didalam diri, padahal yang menjadikan rezeki diberkahi yakni rezeki yang membawa kemuliaan kesuksesan keselamatan kebahagiaan dan keceriaan adalah rezeki yang diperoleh dari rasa sakhowatun nafsi. Kita harus terus melatih diri menyudahi mental thoma’ mental faqir dalam harta karena itu menjadikan rezeki yang didapat tidak berkah sebagaimana nasihat Rasulullah tadi, sehingga tidak lagi didikte oleh rasa khawatir akan kefarikaran uang. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah 168 :

اَلشَّيۡطٰنُ يَعِدُكُمُ الۡـفَقۡرَ وَيَاۡمُرُكُمۡ بِالۡفَحۡشَآءِ‌ ۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمۡ مَّغۡفِرَةً مِّنۡهُ وَفَضۡلًا ؕ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌۚ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.

Kita berusaha terus melepaskan kekhawatir-kekhawatir itu dengan diganti dengan rasa Syukur gembira yang tinggi saat mengeluarkan uang. Karena mengeluarkan uang dengan rasa gembira itu adalah getaran rasa lepasnya hati, relanya hati, kayanya hati, dan syukurnya hati dari rasa-rasa miskin yang muncul didalam hati.

Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

Rasa Sakhowantun nafsi ini otomatis akan di iringi rasa cukup atau qona’ah di dalam hati, yang mana qona’ah akan menjadikan diri kita tidak lagi berminat untuk menerima sumbangan dari orang lain. Seperti halnya Hakim bin Hisyam bersumpah tidak mau lagi meminta-minta, dan tumbuhnya rasa Sakhowatun nafsimuncul ditandai dengan rasa bagaimana tangan (memberi) di atas bukan bagaimana tangan di bawah (menerima). Cara-cara yang ditempuh oleh Hakim inilah adalah cara-cara memperoleh rezeki yang diberkahi.

Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

Kebalikan dari Sakhowatun nafsi adalah isyrafun nafsi atau keserakahan tamak, kekhawaritan uang habis dan kikir karena memberi dan membelanjakannya adalah rasa hati yang perlu kita jauhi, kalaupun memiliki uang yang banyak namun pikiran dibayang-bayangi maksiat, rasa kurang itu semua gejala-gejala rezeki yang tidak diberkahi. Tanda bahwa rezeki kita diberkahi, seperti bisa saja memiliki hutang namun lancar membayarnya dan tidak memberi efek tekanan batin, bisa saja rancangan bisnis kita kecil namun diberi pertumbuhan yang membaik, bisa saja gaji anda kecil namun cukup dan membahagiakan, bisa saja anda rezeki banyak namun anda mulia terhormat dan terhindar dari maksiat. Berpindahnya rezeki tidak berkah menjadi rezeki yang berkah itu tidak lain dengan melaksanakan nasihat Rasulullah dan meneladani hakim bin hisyam yang mengubah mental isyrafun nafsi menjadi mental sakhowatun nafsi dari mental yang serakah digubah menjadi mental yang dermawan.

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

 

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Bagikan ke :