Qashidah Burdah Imam Al Bushiri
Qashidah Burdah Imam Al Bushiri
(Bahasa Arab: قصيدة البردة) adalah suatu Qasidah (lagu-lagu) yang berisi syair tentang pujian/ sholawat kepada Nabi Muhammad s.a.w.. Syair tersebut diciptakan oleh Imam al Busiri dari Mesir. Di Indonesia, Burdah sering dilantunkan, terutama oleh kaum Nahdliyin.
Qashidah Burdah[1] memang selalu didengungkan oleh para pecintanya setiap saat. Di berbagai negeri Islam, baik di negeri-negeri Arab maupun ‘ajam (non-Arab), ada majelis-majelis khusus untuk pembacaan Burdah dan penjelasan bait-baitnya. Tak henti-hentinya muslimin di seluruh penjuru dunia menjadikannya sebagai luapan kerinduan pada Nabi.
Burdah bukan sekadar karya. Ia dibaca karena keindahan kata-katanya. Dr. De Sacy, seorang ahli bahasa Arab di Universitas Sorbonne, Prancis, memujinya sebagai karya puisi terbaik sepanjang masa.
Di Hadhramaut dan banyak daerah Yaman lainnya diadakan pembacaan qashidah Burdah setiap subuh hari Jum’at atau ashar hari Selasa. Sedangkan para ulama Al-Azhar di kota Mesir banyak yang mengkhususkan hari Kamis untuk pembacaan Burdah dan mengadakan kajian. Sampai kini masih diadakan pembacaan Burdah di masjid-masjid besar di kota Mesir, seperti Masjid Imam Al-Husain, Masjid As-Sayyidah Zainab. Di negeri Syam (Syiria) majelis-majelis qashidah Burdah juga digelar di rumah-rumah dan di masjid-masjid, dan dihadiri para ulama besar. Di Maroko pun biasa diadakan majelis-majelis besar untuk pembacaan qashidah Burdah dengan lagu-lagu yang merdu dan indah yang setiap pasal dibawakan dengan lagu khusus.
Burdah tak hanya indah kata-katanya, tapi doa-doanya juga memberi manfaat pada jiwa. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak ulama memberikan catatan khusus tentang Burdah, baik dalam bentuk syarah (komentar) maupun hasyiyah (catatan kaki atau catatan pinggir). Sangat banyak karya syarah atas Burdah yang tak diketahui lagi siapa pengarangnya.
Qashidah Burdah adalah salah satu karya paling populer dalam khazanah sastra Islam. Isinya sajak sajak pujian kepada Nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan. Hingga kini Burdah masih sering dibacakan di berbagai pesantren salaf dan pada peringatan Maulid Nabi. Banyak pula yang menghafalnya. Karya itu telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum, Indonesia/Melayu, Inggris, Prancis, Jerman, Italia.
Pengarang qashidah Burdah ialah Al-Bushiri (610-695H/1213-1296 M). Nama lengkapnya Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushiri. Selain menulis Burdah, Al-Bushiri juga menulis beberapa qashidah lain. Di antaranya Al-Qashidah Al-Mudhariyah dan Al-Qashidah Al-Hamziyah.
Al-Bushiri adalah keturunan Berber yang lahir di Dallas, Maroko, dan dibesarkan di Bushir, Mesir. Ia murid sufi besar Imam Asy-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abul Abbas Al-Mursi, tokoh Tarekat Syadziliyah. Di bidang fiqih, Al-Bushiri menganut Madzhab Syafi‘i, madzhab fiqih mayoritas di Mesir.
Pada masa kecilnya, ia dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari Al-Quran, di samping berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Kemudian ia belajar kepada ulama-ulama di zamannya. Untuk memperdalam ilmu agama dan kesusastraan Arab, ia pindah ke Kairo. Di sana ia menjadi seorang sastrawan dan penyair yang andal. Kemahirannya di bidang syair melebihi para penyair pada zamannya. Karya-karya kaligrafinya juga terkenal indah.
Di dalam qashidah Burdah diuraikan beberapa segi kehidupan Nabi Muhammad SAW, pujian terhadap dia, cinta kasih, doa-doa, pujian terhadap Al-Quran, Isra Mi’raj, jihad, tawasul, dan sebagainya. Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, Al-Bushiri tidak saja telah menanamkan kecintaan umat Islam kepada nabinya, tetapi juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral, kepada kaum muslimin. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika qashidah Burdah senantiasa dibacakan di pesantren-pesantren salaf.
Al-Burdah, menurut etimologi, banyak mengandung arti, antara lain baju (jubah) kebesaran khalifah yang menjadi salah satu atribut khalifah. Dengan atribut burdah ini, seorang khalifah bisa dibedakan dengan pejabat negara lainnya, temanteman, dan masyarakat pada umumnya. Burdah juga merupakan nama qashidah yang digubah oleh Ka‘ab bin Zuhair bin Abi Salma yang dipersembahkan kepada Rasulullah SAW.
Ada sebab-sebab khusus dikarangnya qashidah Burdah. Suatu ketika Al-Bushiri menderita sakit lumpuh sehingga tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Lalu dibuatnya syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi, dengan maksud memohon syafa’atnya. Di dalam tidurnya, ia mimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Nabi mengusap wajah Al-Bushiri, kemudian dia melepaskan jubahnya dan mengenakannya ke tubuh Al-Bushiri. Saat ia bangun dari mimpinya, seketika itu juga ia sembuh dari lumpuhnya.
Al-Bushiri adalah seorang yang menjalani kehidupan sebagaimana layaknya para sufi, yang tercermin dalam kezuhudannya, ketekunannya beribadah, serta ketidaksukaannya pada kemewahan dan kemegahan duniawi. Di kalangan para sufi, ia termasuk dalam jajaran sufi besar. Sayyid Mahmud Faidh Al-Manufi menulis di dalam bukunya, Jawharat al-Awliya’, bahwa Al-Bushiri tetap konsisten dalam hidupnya sebagai seorang sufi sampai akhir hayatnya.
Makamnya yang terletak di Iskandaria, Mesir, sampai sekarang masih diziarahi orang. Makam itu berdampingan dengan makam gurunya, Abul Abbas Al-Mursi.
Memuji Nabi Muhammad bukanlah menganggap dia sebagai Tuhan.. Menyanjung Rasulullah adalah mengakui Muhammad SAW sebagai manusia pilihan. “Kami tidak mengutus engkau (hai Muhammad) kecuali (sebagai) rahmat bagi alam semesta (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil’alamin).” Itu firman Allah. Sumber ajaran memuji dan mencintai Nabi tak lain adalah Islam itu sendiri. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Didiklah anak-anakmu dalam tiga tahap. Mencintai Nabi, keluarganya, dan membaca Al-Quran.”
Untuk mencintai kekasih, apalagi dia itu adalah kekasih Tuhan, Al-Quran mengajarkan dan menganjurkan kepada umat Islam, sebagaimana tertera dalam Kitabullah, “Sungguh Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi. Hai orang beriman, bershalawatlah atasnya dan berilah salam kepadanya dengan sehormat-hormatnya salam.” (QS 33: 56).
Shalawat, jika datangnya dari Allah kepada nabi-Nya, bermakna rahmat dan keridhaan. Jika dari para malaikat, berarti permohonan ampun. Dan bila dari umatnya, bermakna sanjungan dan pengharapan, agar rahmat dan keridhaan Tuhan dikekalkan.
Dalam surah yang lain Allah memuji hamba-Nya yang satu ini dengan, “Sungguh engkau (hai Nabi) benar-benar dalam budi dan perangai yang tinggi.” Allah tak pernah memanggil namanya langsung, seperti “hai Muhammad”, melainkan “hai Nabi”, “hai Rasul”, “hai pria yang berselimut”. Di samping itu bukankah Baginda sendiri yang menganjurkan kita untuk menghaturkan sanjungan (madah) terhadap diri dia? Seorang nabi yang telah digambarkan oleh Al-Quran sebagai “pencurah rahmat bagi seluruh alam semesta”. Seperti diharapka dia dalam banyak hadits agar kaumnya banyak menyebut namanya.
“Sebutlah selalu namaku, sungguh shalawatmu itu sampai kepadaku,” sabdanya. Bahkan dianjurkan agar umat Islam banyak-banyak menyebut namanya di malam Jum’at. Seperti dalam riwayat lain, sungguh menyebut nama Muhammad SAW akan dijawab (dengan pahala) berlipat-lipat…..subhanallah….
Imam Al Bushiri
Biografi Imam Al Bushiri, Sang Shohibul Burdah
Qashidah Burdah yang sangat mempesona itu adalah karya Syafaruddin Abu AbdillahMuhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdullah bin Shanhaj bin Hilal Ash-Shanhaji. Ia lahir pada hari selasa Syawwal tahun 608 H / 1211 M di daerah Dalash, tapi besar di Bushir, sehingga kemudian lebih dikenal dengan nama Imam Al-Bushiri.
Sejak kecil , ia telah mulai menghafalkan Al Qur’an serta mempelajari ilmu-ilmu agama dan bahsa Arab. Ia didik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari Al-Qur’an, disamping berbagai ilmu pengetahuan lainnya.
Kemudian ia belajar kepada ulama-ulama dizamannya. Untuk memperdalam ilmu agama dan kasustraan Arab, ia pindah ke Kairo.. Disanalah Ia kemudian menjadi seorang sastrawan dan penyair ulung. Kemahirannya dibidang sastra ini melebihi para penyair pada zamannya.
Karya-karya kaligrafinya juga terkenal. Tulisannya sangat indah. Ia mempelajari disiplin ini dan kaidah-kaidahnya dar Syaikh Ibrahim bin Abu Abdillah Al Bushiri. Penguasaannya tentangkhat (kaligrafi), baik praktis maupun teoritis membuat banyak pelajar menimba illmu kepadanya. Dalam seminggu, yang belajar ilmu ini kepadanya lebih dari seribu orang. Demikian disebutkan dalam pengantar kitab syarh Burdah yang berjudul Al-‘Umdah fi Syarh Al-Burdah, karya Syaikhul Islam Ahmad bin Muhammad bin Hajar Al-Haitami.
Al-Bushiri berguru kepada banyak tokoh ulama, diantaranya Abu Hayyan Atsirudin Muhammad bin Yusuf Al-Ghamathi Al Andalusi, Fathuddin Abul Fath Muhammad bin Muhammad Al Umari Al-Andalusi Al-Isybili Al Mishri yang dikenal dengan sebutan Ibn Sayyidin Nas. Al ‘Izz bin Jama’ah Al Kanani Al Hamawi.
Sejak masa kanak-kanak , ia dikenal sebagai orang yang wara’ (sangat berhati-hati karena takut dosa). Pernah suatu ketika ia akan diangkat menjadi pegawai pemerintahan kerajaan Mesir. Tetapi ketika melihat perilaku pegawai kerajaan, ia pun menolaknya.
Mengenai kehidupannya, Dr. Su’ad Mahir berkata, “ Pada awal kehidupannya, Al Bushiri memegang dan mengajar menulis pada beberapa kelompok di daerah Bilbis, kenudian ia meningggalkan tugas-tugas pemerintahan dan kesengangan dunia, lalu menyendiri dalam kehidupan tasawuf dan menghabiskan waktunya untuk beribadah, kemudian ia pergi ke Iskandariyah untuk menjadi murid Al-Quthb Abul Abbas Al Mursi. Al Bushiri dan Ibnu ‘Athaillah As-sakandari adalah dua murin dari Abul Abbas. Al-Bushiri dianugrahi keunggulan dalam bentuk syair, sedangkan Ibnu ‘Athaillah (Pengarang Al-Hikam) dianugrahi keunggulan dalam bentuk prosa (natsar)
Al Bushiri tekun belajar kepada para gurunya sehingga tampaklah keberkahan pada dirinya, dalam agama, ilmu, kewara’an dan kewalian. Setelah itu ia memilih cara yang lain dalam mengarang syairnya. Maka jadilah syairnya berisi tasawuf dan pujian kepada Rasulullah , dan ia pun memurnikan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Al-Bushiri sebenarnya tak hanya terkenal dengan karya Burdah-nya. Ia juga dikenal dikenal sebagai seorang ahli fiqh dan ilmu kalam. Namun nama burdah telah menenggelamkan ketekenalannya sebagai seorang sufi besar yang memiliki banyak murid.
Karena karya Burdah-nya dipadang sebagai puncak karya sastra dalam memuji Rasulullah SAW , Al Bushiri digelari Sayyidul Muddah. Yang artinya “ Pemimpin para Pemuji Rasulullah Saw.”
Sumber : Wikipedia dan Majalah Al Kisah, No. 04/22 Feb- 7 Maret 2010
Bagikan ke :
