Dirasatul Qur'an Al-Karim adalah Lembaga Pendidikan pondok pesantren yang fokus pada Tahfidzul Qur'an
Minggu, 16 Agustus 2026 | 2 Rabiul Awwal 1448 H
+6281392603221

BELAJAR DAN MENGAJARKAN AL QUR'AN PADA ANAK ANAK

Mengajarkan Al-Qur’an kepada Anak: Menahan Amarah Langit dengan Cahaya Wahyu

Ada sebuah ungkapan yang sering beredar di tengah masyarakat:

تَعْلِيمُ الصِّبْيَانِ الْقُرْآنَ يَدْفَعُ غَضَبَ الْجَبَّارِ

“Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak dapat menolak kemurkaan Al-Jabbar.”

Ungkapan ini terasa begitu indah. Ia menggambarkan betapa agungnya sebuah majelis kecil tempat anak-anak mengeja huruf-huruf Al-Qur’an: mungkin dengan suara terbata-bata, mungkin dengan tajwid yang belum sempurna, bahkan kadang diselingi kantuk, bermain, dan tangis. Tetapi di balik ketidaksempurnaan itu, ada sesuatu yang sangat besar: Al-Qur’an sedang ditanamkan ke dalam kehidupan manusia sejak usia paling awal.

Diriwayatkan dari Tsabit bin ‘Ajlan:

إِنَّ اللَّهَ لَيُرِيدُ الْعَذَابَ بِأَهْلِ الْأَرْضِ، فَإِذَا سَمِعَ تَعْلِيمَ الصِّبْيَانِ الْحِكْمَةَ، صَرَفَ ذَلِكَ عَنْهُمْ

“Sesungguhnya Allah hendak menimpakan azab kepada penduduk bumi. Namun apabila Dia mendengar anak-anak diajari hikmah, Dia memalingkan azab itu dari mereka.”

Riwayat ini disebutkan dalam Sunan ad-Darimi. Ia bukan hadis marfu‘ kepada Rasulullah ﷺ, melainkan sebuah riwayat yang menggunakan ungkapan “كان يقال” — “dahulu dikatakan.” Karena itu, ia tidak boleh diperlakukan sebagai sabda Nabi ﷺ yang shahih. Menariknya, dalam penjelasan yang dinukil dari Marwan, kata الحكمة dalam riwayat tersebut dimaknai sebagai Al-Qur’an. Di sinilah kita menemukan sebuah renungan yang jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan sebuah kalimat.

Anak-anak dan Al-Qur’an

Bayangkan sebuah pesantren pada pagi hari. Anak-anak duduk dengan mushaf di hadapannya. Ada yang membaca dengan lancar. Ada yang masih mengeja alif, ba, ta. Ada yang salah panjang-pendek. Ada yang lupa ayat kemarin. Ada yang ditegur gurunya. Ada yang menguap. Ada pula yang diam-diam ingin bermain. Dari luar, mungkin itu terlihat sebagai aktivitas biasa. Tetapi dalam pandangan iman, tidak ada yang biasa dari sebuah majelis yang di dalamnya nama Allah terus-menerus disebut dan firman-Nya terus-menerus dibacaSatu huruf yang dibaca adalah bagian dari proses panjang membangun manusia.

Hari ini seorang anak belajar membaca Al-Fatihah. Besok ia menghafalnya. Bertahun-tahun kemudian, mungkin ia akan membacanya ketika menjadi imam. Mungkin ia akan membacakannya untuk kedua orang tuanya. Mungkin kelak ia menjadi guru dan mengajarkannya kepada generasi berikutnya. Satu ayat yang hari ini dibaca dengan terbata-bata, bisa menjadi cahaya yang berjalan jauh melampaui umur pembacanya.Karena itu, pendidikan Al-Qur’an kepada anak bukan sekadar aktivitas menghafalkan teks.

Ia adalah pekerjaan menanam masa depan. Al-Qur’an sebagai rahmat bagi sebuah kehidupanAllah ﷻ berfirman:

وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ

“Dan ini adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkahi.” (QS. Al-An‘am: 155)

Keberkahan Al-Qur’an tidak hanya berada pada mushaf yang tersimpan di rak. Keberkahan itu hidup ketika Al-Qur’an dibaca. Ia hidup ketika ayat-ayatnya dihafalkan. Ia hidup ketika seorang anak belajar membedakan huruf ض dan ظ. Ia hidup ketika seorang santri memperbaiki makhrajnya. Ia hidup ketika seorang anak mulai memahami bahwa berdusta itu buruk karena Al-Qur’an mengajarkan kejujuran. Dan ia hidup ketika ayat-ayat yang dahulu hanya dihafalkan dengan lisan perlahan berubah menjadi akhlak.

Maka mendidik anak dengan Al-Qur’an sejatinya bukan hanya memasukkan ayat ke dalam kepala, tetapi berusaha menurunkan cahaya wahyu ke dalam perilaku dan kehidupan.Jangan remehkan suara anak-anak yang membaca Al-Qur’an. Barangkali suara mereka belum indah. Barangkali hafalan mereka belum banyak. Barangkali bacaan mereka masih penuh kesalahan. Tetapi jangan pernah meremehkan sebuah majelis hanya karena orang-orang di dalamnya masih kecil. Sebab boleh jadi, suara anak yang hari ini terbata-bata membaca Al-Qur’an adalah salah satu sebab turunnya rahmat Allah kepada sebuah rumah. Boleh jadi, satu halaman yang mereka baca menjadi sebab hati orang tua mereka dilapangkan. Boleh jadi, hafalan yang mereka perjuangkan hari ini kelak menjadi amal yang terus mengalir. Dan boleh jadi, sebuah pesantren yang tampak sederhana di mata manusia ternyata memiliki kedudukan yang sangat besar di sisi Allah karena di dalamnya ada anak-anak yang setiap hari belajar firman-Nya

Kita tidak tahu. Sebab ukuran kemuliaan di sisi Allah tidak selalu sama dengan ukuran kemegahan di mata manusia. Sebuah pesan untuk para orang tua. Jangan hanya bertanya kepada anak "Sudah berapa juz hafalannya?”Tanyakan pula: “Sudahkah Al-Qur’an membuatmu menjadi manusia yang lebih baik?”

Sebab tujuan akhir Al-Qur’an bukan sekadar banyaknya hafalan. Hafalan adalah pintu.Tilawah adalah jalan. Pemahaman adalah perjalanan dan pengamalan adalah buah.

Anak yang hafal banyak ayat tetapi lisannya menyakiti orang lain masih membutuhkan perjalanan panjang untuk memahami ruh Al-Qur’an. Sebaliknya, seorang anak yang baru menghafal beberapa surat tetapi mulai belajar jujur, hormat kepada orang tua, menjaga shalat, menyayangi sesama, dan takut berbuat zalim, sesungguhnya sedang memperlihatkan bahwa Al-Qur’an mulai hidup di dalam dirinya.Sebuah pekerjaan yang mungkin tidak terlihat, tetapi sangat besar.

Mengajar Al-Qur’an kepada anak-anak terkadang bukan pekerjaan yang mendapatkan tepuk tangan. Guru harus mengulang ayat yang sama berkali-kali. Memperbaiki makhraj yang sama. Mengingatkan adab yang sama. Menyimak hafalan yang sama.

Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Kadang hasilnya tidak langsung terlihat. Namun pendidikan memang seperti menanam pohon.

Kita menanam hari ini, sementara teduhnya mungkin baru dinikmati oleh generasi yang bahkan belum lahir. Demikian pula Al-Qur’an. Seorang guru mungkin mengajarkan satu ayat kepada seorang anak hari ini. Tetapi ayat itu bisa hidup di dalam dirinya selama puluhan tahun. Bahkan mungkin diteruskan kepada anak-anaknya, murid-muridnya, dan generasi setelahnya. Inilah amal yang panjang umurnya. Maka jangan pernah merasa bahwa mengajarkan satu ayat kepada seorang anak adalah pekerjaan kecil. Bisa jadi, di situlah seseorang sedang ikut membangun masa depan umat.

 

Dirasatul Qur’an Al-Karim

Atas dasar renungan inilah pendidikan Al-Qur’an tidak semestinya dipandang sebagai pelajaran tambahan. Ia adalah amanah peradaban. Kita tidak sekadar ingin melahirkan anak-anak yang pandai membaca Al-Qur’an. Kita ingin melahirkan generasi yang hidup bersama Al-Qur’an. Generasi yang lisannya akrab dengan ayat-ayat Allah. Hatinya lembut karena wahyu. Akalnya tercerahkan oleh petunjuk. Akhlaknya dibentuk oleh Al-Qur’an. Dan kehidupannya menjadi kesaksian bahwa wahyu Allah bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihidupkan. Maka jika suatu hari kita mendengar suara anak-anak membaca Al-Qur’an dari sebuah pesantren, jangan buru-buru menganggapnya sebagai suara biasa.

Mungkin di situlah sedang tumbuh generasi yang akan menjadi cahaya bagi zamannya. Mungkin di situlah sedang berlangsung sebuah amal yang kelak terus mengalir melewati batas usia para gurunya. Dan mungkin, sebagaimana makna yang terkandung dalam riwayat tersebut, di antara sebab datangnya rahmat Allah kepada suatu kaum adalah ketika anak-anak mereka diajari hikmah dan Al-Qur’an. Kita tidak memastikan sesuatu yang tidak dipastikan oleh dalil. Tetapi kita juga tidak boleh kehilangan keindahan maknanya. Sebab satu hal yang pasti: Al-Qur’an adalah rahmat. Dan mengajarkan Al-Qur’an kepada generasi berikutnya adalah ikhtiar untuk memastikan rahmat itu tidak berhenti pada satu generasi. Semoga setiap huruf yang dibaca anak-anak kita menjadi cahaya bagi mereka, bagi guru-gurunya, bagi kedua orang tuanya, dan bagi kehidupan umat ini.

اللهم اجعل القرآن ربيع قلوبنا، ونور صدورنا، وسبب هدايتنا ورحمتنا

Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai musim semi hati kami, cahaya dada kami, serta sebab datangnya hidayah dan rahmat-Mu kepada kami.

 

Dirasatul Qur’an Al-Karim

Menanam Al-Qur’an hari ini, menjemput cahaya generasi esok.

Bagikan ke :