Dirasatul Qur'an Al-Karim adalah Lembaga Pendidikan pondok pesantren yang fokus pada Tahfidzul Qur'an
Jumat, 21 Agustus 2026 | 7 Rabiul Awwal 1448 H
+6281392603221

KHUBAH JUMÁT : MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Naskah Khutbah : Hakikat Maulid, Mahabbah, dan Luapan Kegembiraan

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُلِلَّهِ الْقَوِيِّ سُلْطَانُه ﴿﴾ اَلْوَاضِحِ بُرْهَانُهْ ﴿﴾ اَلْمَبْسُوْطِ فِي الْوُجُوْدِ كَرَمُهُ وَاِحْسَانُه ﴿﴾ تَعَالَى مَجْدُهُ وَعَظُمَ شَانُهْ ﴿﴾ خَلَقَ الْخَلْقَ لِحِكْمَهْ ﴿﴾ وَطَوَى عَلَيْهَا عِلْمَهْ ﴿﴾ وَبَسَطَ لَهُمْ مِنْ فَآئِضِ الْمِنَّةِ مَا جَرَتْ بِهِ فِى اقْدَارِهِ الْقِسْمَةْ ﴿﴾ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ اَشْرَفَ خَلْقِهِ وَاَجَلَّ عَبِيْدِهِ رَحْمَة ﴿﴾ تَعَلَّقَتْ اِرَادَتُهُ الْأَزَلِيَّةُ بِخَلْقِ هَذَا الْعَبْدِ الْمَحْبُوْبِ ﴿﴾ فَانْتَشَرَتْ اَثَارُ شَرَفِهِ فِي عَوَالِمِ الشَّهَادَةِ وَالْغُيُوْبْ ﴿﴾ فَمَا اَجَلَّ هَذَا الْمَنَّ الَّذِيْ تَكَرَّمَ بِهِ الْمَنَّانْ ﴿﴾ وَمَا اَعْظَمَ هَذَا الْفَضْلَ الَّذِيْ بَرَزَ مِنْ حَضْرَةِ الْإِحْسَانْ ﴿﴾ صُوْرَةً كَامِلَةً ظَهَرَتْ فِي هَيْكَلٍ مَحْمُوْدْ ﴿﴾ فَتَعَطَّرَتْ بِوُجُوْدِهَا اَكْنَافُ الْوُجُوْدِ ﴿﴾ وَطَرَّزَتِ بُرْدَ الْعَوَالِمِ بِطِرَازِ التَّكْرِيْم .أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ . وَقَال أيضا : قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Di bulan Rabiul Awal yang mulia ini, hati umat Islam di seluruh penjuru dunia bergetar gembira menyambut bulan kelahiran junjungan kita, manusia terbaik yang pernah menginjakkan kakinya di bumi, Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagai khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Dan tidak ada jalan ketakwaan yang paling lurus, selain dengan mencintai dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Ketika kita berbicara tentang peringatan Maulid Nabi, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang luapan rasa syukur. Allah SWT menegaskan status Nabi Muhammad SAW bukan sekadar nabi, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 107:

 وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."

Lalu bagaimana sikap kita terhadap rahmat terbesar ini? Allah menjawabnya dalam Surah Yunus ayat 58:

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

 

Hadirin yang dimuliakan Allah

Sebagai bukti betapa besarnya keberkahan bergembira atas kelahiran Rasulullah SAW, mari kita renungkan sebuah riwayat sahih dari Imam Al-Bukhari yang sering disampaikan oleh para ulama besar Ahlussunnah wal Jama'ah, termasuk Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Riwayat ini menceritakan tentang Abu Lahab, paman Nabi yang kafir dan diabadikan laknat kebinasaannya dalam Al-Quran Surah Al-Lahab. Ketika Nabi Muhammad SAW lahir, seorang budak perempuan bernama Tsuwaibah datang berlari membawa kabar gembira tersebut. Saking gembiranya menyambut kelahiran sang keponakan, Abu Lahab seketika itu juga memerdekakan Tsuwaibah untuk membatu Ibu Aminah dalam merawat bayi Mulia Baginda Nabi Muhammad SAW.

Bertahun-tahun setelah Abu Lahab meninggal dalam kekafiran, salah seorang keluarganya (Abbas bin Abdul Muthalib) bermimpi melihatnya dalam keadaan yang sangat buruk dan penuh siksa. Keluarganya bertanya, 'Apa yang engkau temui di sana?' Abu Lahab menjawab:

لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ خَيْرًا، غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

“Aku tidak menemui kebaikan apa pun setelah meninggalkan kalian, kecuali (siksaku diringankan setiap hari Senin) dan aku diberi minum dari celah jariku ini, karena aku telah memerdekakan Tsuwaibah." (HR. Bukhari)

 

Hadirin sekalian, mari kita resapi keagungan hadis ini. Sayyid Muhammad Al-Maliki mengutip gubahan syair dari Al-Hafizh Syamsuddin ad-Dimasyqi yang sangat menggetarkan hati:

إِذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ ۞ بِتَبَّتْ يَدَاهُ فِي الجَحِيمِ مُخَلَّدَا

أَتَى أَنَّهُ فِي يَوْمِ الِاثْنَيْنِ دَائِمًا ۞ يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُورِ بِأَحْمَدَا

فَمَا الظَّنُّ بِالعَبْدِ الَّذِي كَانَ عُمْرَهُ ۞ بِأَحْمَدَ مَسْرُورًا وَمَاتَ مُوَحِّدَا

 

"Jika orang kafir ini (Abu Lahab) saja yang telah dicela Al-Quran dan kekal di neraka, diringankan siksanya setiap hari Senin karena gembira dengan lahirnya Ahmad (Nabi SAW).Maka apa sangkaanmu terhadap seorang hamba mukmin, yang seumur hidupnya bergembira dengan Nabi Muhammad, dan ia mati membawa iman tauhid?"

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Selain kisah Abu Lahab di atas, Rasulullah SAW sendiri mensyukuri hari lahirnya dengan berpuasa. Ketika ditanya mengapa beliau berpuasa di hari Senin, beliau menjawab dalam Hadis Riwayat Muslim:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ - أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

"Itu adalah hari di mana aku dilahirkan, dan hari di mana aku diutus (menjadi Nabi) - atau diturunkannya wahyu kepadaku."

Oleh karena itu, ulama-ulama besar seperti Imam As-Suyuthi dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menghukumi berkumpul untuk merayakan Maulid sebagai perkara yang mendatangkan kebaikan. Esensinya didasari oleh Qiyas (analogi) dan Ushul Fiqih yang kuat; yakni berkumpul untuk berselawat, bersedekah, dan mendengarkan sejarah Nabi sebagai wujud syukur atas nikmat penciptaan beliau.

Jika kita melihat catatan sejarah, perayaan Maulid secara luas pertama kali digerakkan oleh Sultan Muzhaffaruddin di Irbil pada awal abad ke-7 Hijriah untuk mengobarkan semangat persatuan umat Islam yang saat itu menghadapi Perang Salib. Sejak saat itu, tradisi mulia ini diwariskan. Ulama menyusun kitab-kitab sejarah yang indah. Seperti kitab Maulid Diba’i, Maulid Barzanji, Maulid Syaraful Anam, Maulid Simthuddurar, Qasidah Burdah, Maulid Dliyaul Lami’. Dan ketika narasi sejarah maulid yang ditulis sampai pada detik-detik kelahiran Sang Cahaya, maka pembaca dan hadirin di majelis itu semua berdiri atau sering disebut Mahalul Qiyam. Tradisi Mahallul Qiyam (berdiri) ini bukanlah rukun ibadah, melainkan adab dan ihtiram(penghormatan).

Rasulullah SAW sendiri pernah memerintahkan para sahabat untuk berdiri menyambut pemimpin mereka yang mulia, Sa'ad bin Mu'adz, sebagaimana termaktub dalam hadis mutawatir:

قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ

"Berdirilah kalian untuk menyambut pemimpin (orang mulia) di antara kalian."

Jika menyambut manusia biasa yang mulia saja disunnahkan berdiri, maka menghadirkan hati (hudhur al-qalb) menyambut kerinduan kepada manusia paling agung, tentu jauh lebih pantas membuat kita berdiri, seraya melantunkan:

يَانَبِي سَلَامٌ عَلَيْكَ، يَارَسُوْل سَلَامٌ عَلَيْكَ

Wahai Nabi, salam sejahtera untukmu. Wahai Rasul, salam sejahtera untukmu.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

mari kita renungkan pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Iqtida' as-Shirath al-Mustaqim Juz 2, Halaman 126, cetakan Dar Alamiyyah Beliau menuliskan pandangannya terhadap orang-orang yang merayakan Maulid:

فَتَعْظِيمُ الْمَوْلِدِ، وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا، قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ، وَيَكُونُ لَهُ فِيهِ أَجْرٌ عَظِيمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيمِهِ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Maka mengagungkan hari kelahiran (Maulid), dan menjadikannya sebagai perayaan yang dilakukan oleh sebagian orang, mereka bisa mendapatkan pahala yang besar (ajr 'azhim) karena niat baiknya dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW."

Maka, jadikanlah momentum Maulid bulan ini untuk memperkokoh tauhid kita, memperbanyak selawat untuk meningkatkan mahabbah rasa cinta kepada Nabi, meneladani akhlak mulia beliau, dan mempererat ukhuwah.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

  اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ   أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِالْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّكَ وَحُبَّ نَبِيِّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ.اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِيْ الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Bagikan ke :