Dirasatul Qur'an Al-Karim adalah Lembaga Pendidikan pondok pesantren yang fokus pada Tahfidzul Qur'an
Minggu, 16 Agustus 2026 | 2 Rabiul Awwal 1448 H
+6281392603221

MANUSIA TERBAIK ADALAH ?

BELAJAR DAN MENGAJARKAN AL-QUR'AN

Tadabbur atas sabda Nabi ﷺ : “Khairukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamah”

Ada satu kalimat pendek dalam Shahih Al-Bukhari yang, jika direnungkan sungguh-sungguh, cukup menjadi jawaban atas pertanyaan besar setiap insan: siapakah sebaik-baik manusia?

Dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

Nilai tambah yang dapat diterima oleh pelanggan: أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ: سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ، عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya."

(HR. Bukhari, no. 5027)

Delapan kata dalam bahasa Arabnya. Namun di dalamnya tersimpan seluruh arah hidup yang bisa dilalui seorang jiwa ilmu — dan seluruh arah hidup yang, dengan izin Allah, coba kami perjalanan di Dirasatul Qur'an Al-Karim setiap harinya.

Dua Sisi Mata Uang: Belajar dan Mengajar

Para ulama menegaskan bahwa keutamaan dalam hadits ini tidak berdiri pada satu kaki, melainkan dua: ta'allum (belajar) dan ta'lim (mengajar). Seseorang yang baru belajar tanpa pernah menyampaikan ilmunya belum menempati posisi tertinggi yang dimaksud hadits ini. Begitu pula sebaliknya — tanpa mengajar dasar belajar yang kokoh bukanlah yang dipuji di sini.

Lebih dalam lagi, ulama membagi makna "belajar dan mengajar Al-Qur'an" menjadi dua tingkatan: mempelajari huruf dan lafaznya (makhraj, tajwid, kelancaran bacaan), dan mempelajari makna serta kandungannya (tadabbur, tafsir, pengamalan). Tingkatan kedua inilah yang disebut sebagai bagian yang lebih mulia, sebab lafaz hanyalah wasilah (sarana), sedangkan makna adalah ghayah (tujuan). Namun keduanya tetap satu kesatuan yang tak terpisah — sebagaimana di pesantren, seorang santri mula-mula dituntun mengeja huruf, sebelum kelak diantar memahami kandungan ayat.

Imam Al-Qurthubi menyimpulkannya dengan kalimat yang tegas: "ta'lim Al-Qur'an adalah amal yang paling utama, karena di dalamnya terdapat pertolongan bagi agama — ia seperti menuntun seorang kafir mengucap syahadat agar masuk Islam." Sebuah perbandingan yang menunjukkan betapa beratnya timbangan mengajarkan Al-Qur'an dalam pandangan ulama — setara dengan membuka pintu keislaman seseorang.

Ketika Seorang Perawi Menjadikan Hadits sebagai Jalan Hidupnya

Yang menjadikan riwayat ini begitu hidup bukan hanya matannya, tapi juga penutup riwayatnya sendiri. Dalam Shahih Bukhari, setelah menyebutkan hadits ini, disebutkan:

قَالَ: وَأَقْرَأَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي إِمْرَةِ عُثْمَانَ حَتَّى كَانَ الْحَجَّاجُ، قَالَ: وَذَاكَ الَّذِي أَقْعَدَنِي مَقْعَدِي هَذَا

"Abu Abdirrahman (As-Sulami) mengajar Al-Qur'an sejak masa pemerintahan Utsman hingga masa Hajjaj. Ia berkata: 'Hadits inilah yang mendudukkanku pada kedudukanku ini.'"

Abu Abdirrahman As-Sulami — perawi yang menerima hadits ini langsung dari Utsman — menghabiskan puluhan tahun hidupnya mengajar Al-Qur'an, semata karena tergerak oleh sabda Nabi ﷺ yang ia dengar sendiri. Satu hadits, didengar oleh satu hati yang siap, melahirkan pengabdian seumur hidup. Inilah gambaran paling murni tentang bagaimana sebuah ilmu semestinya bekerja: bukan berhenti sebagai hafalan, tapi menjelma menjadi jalan hidup.

Mengapa Sanadnya Begitu Dijaga

Para muhaddits mencatat bahwa hadits ini diriwayatkan melalui dua jalur utama — jalur Syu'bah dan jalur Sufyan (Ats-Tsauri) — keduanya dari Alqamah bin Martsad. Para huffaz seperti Imam At-Tirmidzi menilai riwayat Sufyan lebih shahih dibanding riwayat Syu'bah, meski keduanya sama-sama termaktub dalam Shahih Bukhari. Ketelitian semacam ini bukan perkara remeh: ia menunjukkan betapa umat ini, sejak generasi awal, menjaga setiap kata yang disandarkan kepada Nabi ﷺ dengan kecermatan yang luar biasa — sebuah warisan metodologi yang semestinya juga kita jaga tatkala mengutip apa pun atas nama beliau ﷺ.

Kedudukan yang Tak Tertandingi

Ibnu Al-A'rabi, sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, berkata: "Seseorang tidak disebut rabbani (pewaris ilmu kenabian) hingga ia menjadi 'alim (berilmu), 'amil (mengamalkan), dan mu'allim (mengajarkan) — ia belajar Al-Qur'an, belajar hukum-hukumnya, lalu mengajarkannya."

Tiga unsur inilah yang menjadi cita-cita setiap lembaga tahfizh dan pesantren: bukan sekadar mencetak penghafal, bukan pula sekadar mencetak pengajar, melainkan melahirkan pribadi yang utuh — berilmu, mengamalkan, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. Rantai inilah yang tak boleh putus, sebagaimana ia tersambung dari Nabi ﷺ, kepada Utsman, kepada Abu Abdirrahman As-Sulami, dan terus mengalir hingga ke setiap majelis Al-Qur'an yang masih berdiri hari ini — termasuk di ruang-ruang kelas Dirasatul Qur'an Al-Karim.

penutup

Hadits ini pendek, tapi jangkauannya panjang: dari zaman Utsman hingga hari ini, dari seorang sahabat hingga seorang santri kecil yang baru mengenal alif ba ta. Ia menjadi mengingatkan bahwa kedudukan tertinggi bukan diraih lewat jabatan atau harta, melainkan lewat kesungguhan mendekati Kalamullah — mempelajarinya, lalu tanpa pelit, membagikannya kepada orang lain.

Kepada setiap guru yang duduk mengajar mengaji, kepada setiap santri yang tekun mengulang hafalan, kepada setiap orang tua yang mengantarkan anaknya ke majelis Al-Qur'an — semoga sabda Nabi ﷺ ini menjadi penguat langkah, sebagaimana ia telah menjadi penguat langkah Abu Abdirrahman As-Sulami, empat belas abad yang lalu.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Bagikan ke :